MELIHAT INDAHNYA PANORAMA LAUT KEPULAUAN SERIBU UTARA (SEBUAH CATATAN PERJALANAN) – Bagian 1

KEBERANGKATAN

Jumat pagi itu pukul 5, dinginnya udara subuh masih terasa, saya dan Kang Dadang sudah bersiap jalan menuju Marina Ancol. Kami harus sampai di Marina pukul 7 untuk antri tiket kapal speedboat menuju pulau Kelapa. Tas perlengkapan sudah siap di samping mobil avanza hitam yang akan mengantar kami, tapi kami masih mencari beberapa peralatan yang harus dibawa. Bang Lubis, driver kantor sudah mulai gelisah dan meminta kami mempercepat persiapan karena jika telat 5 menit saja maka ceritanya akan lain, kita akan terjebak di Cawang bersama dengan ratusan bahkan ribuan kendaraan dari Bogor yang akan ke kawasan Sudirman – Thamrin. Akhirnya kami meluncur ke Marina tepat pukul 5.25 berpacu dengan waktu dan deru kendaraan lain yang sudah terlebih dulu merambah ibukota.

Suasana Dermaga 6 di pagi hari, penumpang sudah berkumpul menunggu kapal berangkat.

Suasana Dermaga 6 di pagi hari, penumpang sudah berkumpul menunggu kapal berangkat.

Pukul 06.15 kami akhirnya sampai di Dermaga 6 Marina Ancol, yang pastinya harus bayar dulu masuk Ancol, Rp. 80.000 untuk 1 mobil dan 3 orang. Ternyata…kapal baru jalan jam 8 pagi, oh no…kepagian kita. Tanpa ba…bi…bu…kita langsung pergi dari Dermaga 6 untuk cari sarapan, maklum karena kita berangkat pagi-pagi buta, kita belum sempat sarapan. Di sekitar Dermaga 12 ternyata ada deretan warung nasi yang memang untuk konsumsi pegawai Ancol dan ada sebuah musholla. Sempat terpikir berapa kira-kira makan di dalam kompleks Marina Ancol, ternyata kita makan bertiga hanya Rp. 37.000, itu sudah dengan minum, berarti standar makan di warteg dong, Alhamdulillah…

 

Contact person marketing kapal speedboat di Marina Ancol.

Contact person marketing kapal speedboat di Marina Ancol.

Kembali ke Dermaga 6, bang Lubis pamit pulang ke kantor, takut macet karena hari sudah beranjak siang. Saya dan kang Dadang langsung menuju ke pembayaran tiket kapal speedboat. Sesuai pesan H. Djamala – alumni ESQ yang tinggal di pulau Kelapa – kami disarankan untuk menemui pak Budi atau pak Deden, dan akhirnya kami bertemu pak Budi. Harga normal tiket ke pulau Kelapa kalau hari kerja (weekday) adalah Rp. 220.000/orang, karena kita bawa nama pak H. Djamala kita cuma bayar Rp. 200.000/orang. Barang bawaan kami dibawa terlebih dulu oleh petugas ke kapal untuk memudahkan kami nanti pada saat masuk kapal. Jika barang tas dan barang bawaan melebihi berat 10kg maka akan dikenakan tambahan biaya sesuai dengan beratnya.

Daftar harga tiket kapal.

Daftar harga tiket kapal.

Daftar harga charge tambahan barang bawaan.

Daftar harga charge tambahan barang bawaan.

Setelah membeli tiket, sambil menunggu dipanggil masuk kapal, saya dan kang Dadang berfoto dan melihat-lihat suasana sekitar dermaga yang mulai dipadati oleh calon penumpang yang akan menuju ke kepulauan Seribu. Ternyata cukup banyak juga yang mau ke kepulauan Seribu, termasuk beberapa turis asing, ada yang dari Eropa, Timur Tengah, bahkan Asia Timur. Kang Dadang yang selalu membawa pocket camera terlihat asyik memotret berbagai objek, bahkan objek yang tak terpikirkan oleh orang biasa, kalau ditanya lagi foto apa, sambil tersenyum kang Dadang berkata, “Siapa tahu diperlukan jadi dipotret aja, daripada nulis, capek trus bisa hilang”.  Dalam hati saya berpikir, bener juga.

Salah satu jenis speedboat yang mengangkut penumpang menuju kepulauan Seribu

Salah satu jenis speedboat yang mengangkut penumpang menuju kepulauan Seribu

Pak Budi (batik biru) sedang memanggil penumpang untuk masuk ke kapal

Pak Budi (batik biru) sedang memanggil penumpang untuk masuk ke kapal

Jam 8.05 para penumpang mulai dipanggil berdasarkan keberangkatan kapal. Setiap kapal mempunyai trayek yang berbeda sesuai dengan posisi pulaunya.   Setiap penumpang harus antri dan masuk kapal sesuai panggilan dari pak Budi, mereka yang lebih dulu dipanggil bebas memilih tempat duduk yang diinginkan.  Suara pak Budi yang memanggil penumpang dengan menggunakan speaker toa terdengar jelas menyebut nama “Bapak Adam, 2 orang ke pulau Kelapa, silakan naik”, segera saya dan kang Dadang bergegas naik ke kapal.

Salah satu jepretan foto kang Dadang sebelum kapal berangkat.

Salah satu jepretan foto kang Dadang sebelum kapal berangkat.

Naik speedboat memang bukan yang pertama kali untuk saya dan kang Dadang, namun naik speedboat untuk angkutan dan terbilang cukup bagus ini merupakan pengalaman khusus bagi saya dan kang Dadang.  Kapal yang dilengkapi dengan 3 mesin yang masing-masing mempunyai daya 250pk itu cukup besar dan mampu memuat 20-30 orang.  Tampilannya yang terkesan mewah membuat saya berpikir, wajar saja jika harga tiketnya mahal, mengingat bahan bakar solar yang diperlukan mesin sebesar 750pk menuju pulau Kelapa cukup besar dan mahal.

Bagian dalam kapal, mampu menampung sekitar 25 orang, tidak ada jendela yang terbuka, hanya kaca yang memungkinkan penumpang melihat kondisi di luar kapal.  Di dalam kapal ada 1 unit tv plasma dilengkapi speaker, dan ada juga 1 unit AC split ukuran 1pk yang cukup membuat sejuk udara dalam kapal.  Di bagian atasnya menampung 5-6 orang termasuk pengemudi kapal atau nahkoda. Sebenarnya posisi duduk ideal untuk kapal speedboat jenis itu adalah di atas karena kita bisa sambil melihat pemandangan laut pada saat kapal jalan, namun apa daya yang duduk di atas adalah orang yang terlebih dulu dipanggil oleh pak Budi.  Tapi jangan khawatir, ada tempat duduk ideal lain yaitu di bawah bagian belakang luar dekat dengan mesin, yaah, terbatas juga sih tempatnya, 4-5 orang bisa lah.

Salah satu sudut pulau Kotok yang disinggahi.

Salah satu sudut pulau Kotok yang disinggahi.

Di dalam kapal, saya asyik main tablet sambil berusaha untuk beristirahat karena malam sebelum berangkat saya susah tidur, dan baru tidur pukul 2 pagi. Sementara kang Dadang mulai keluar dari dalam kapal menuju bagian belakang kapal untuk memotret suasana laut dan kepulauan yang dilewati sepanjang perjalanan. Kapal singgah di pulau Kotok untuk menurunkan penumpang dan melanjutkan kembali perjalanan menuju pulau Kelapa.  Setelah kurang lebih 2 jam, kami akhirnya sampai di pulau Kelapa pukul 10.15, kapal bersandar di dermaga kantor kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan disambut oleh pak H. Djamala yang bertugas di kantor Kecamatan Kepualuan Seribu Utara di bagian pelayanan masyarakat.

Kantor Kec. Kepulauan Seribu Utara di Pulau Kelapa

Kantor Kec. Kepulauan Seribu Utara di Pulau Kelapa

Salah satu dermaga pulau Kelapa di depan Kantor Kecamatan Kepulauan Seribu Utara

Salah satu dermaga pulau Kelapa di depan Kantor Kecamatan Kepulauan Seribu Utara

Peta Potensi pulau Kelapa

Peta Potensi pulau Kelapa

Saya berbincang dengnan pak H. Djamala

Saya berbincang dengnan pak H. Djamala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s